Pages

Minggu, 03 Februari 2013

DHARMA WACANA SARASWATI

Laporan: berita
MENGIKUTI PERJALANAN DHARMA WACANA SARASWATI
BERSAMA I MADE ADI SURYA PRADNYA

            I Made Adi Surya Pradnya, S, Ag., M.Fil. H, dosen muda IHDN Denpasar yang mengabdikan ilmunya untuk umat, dengan membentuk sebuah kelompok Hindu Research Center beranggotakan anak muda Hindu yang memiliki motivasi, dedikasi menyumbangkan ide dan pemikiranya melalui pelayanan terhadap umat. Pria kelahiran Denpasar, 18 Mei 1986 mengajak generasi muda Hindu mengembangkan diri belajar agama Hindu, menganalisis permasalahan tentang kehinduan, melakukan penelitian, diskusi, membagikan buku Hindu dan pengabdian masyarakat. Tepat perayaan Saraswati yang dilaksanakan tanggal 12 Januari 2013, Surya begitu panggilan akrabnya beserta team bersiap melaksanakan dharma wacana tentang hari raya saraswati, persiapan diawali dengan melihat jadwal dharma wacana, kemudian mengumpulkan buku yang akan dipuniakan, mempersiapkan perlengkapan kamera sebagai publikasi dan terakhir doa bersama team agar perjalanan selamat sampai tujuan.
            Perjalanan pertama menuju Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Advaita Medika Tabanan, berangkat dari Denpasar pukul 08.00  dan tiba pukul 09.00, suasana hangat disambut Ketua STIKES Advaita Medika, I Dewa Nyoman Wiratmaja SE,.MM.,Ak. Acara dimulai dengan persembahyangan bersama, kemudian dilanjutkan dharma wacana di Aula kampus. Semangat para Pembina yayasan, pengurus, dosen, pegawai dan mahasiswa membuat suasana kampus semakin meriah. Dharma wacana yang disampaikan berjudul “interpretasi perayaan saraswati dalam pembentukan karakter generasi muda”, untuk memahami ajaran Saraswati, terlebih dulu mesti dipahami pengertian saraswati, kata saraswati berarti mengalir, bahwa pengetahuan mengalir layaknya sebuah sungai, sehingga Dewi Saraswati juga disebut dewi sungai, yaitu sungai Saraswati yang merupakan salah satu sungai terbesar di India. begitu pula halnya dengan pengetahuan suci, dimana pengetahuan mengalir dari hulu ke hilir. Pada konteks ini catur guru adalah pengemban saraswati yang mengalirkan ilmu pengetahuan kepada umat manusia dan dari catur guru pembentukan karakter dimulai.
Guru rupaka, adalah orang tua yang melahirkan anaknya memiliki tanggung jawab besar dalam pembentukan karakter, sebab pengetahuan diterima pertama manusia adalah ajaran orang tua dan secara umum tidak ada orang tua mengajarkan anaknya berbuat buruk, melanggar ajaran dharma dan agama. Orang tua mengorbankan jiwa raganya demi membahagiakan anaknya, termasuk pula pendidikan. Tidak ada orang tua ingin anaknya menderita, sehingga bekerja hanya untuk sang anak, namun banyak anak maupun para remaja tidak menyayangi orang tuanya, bahkan sering bertengkar, membohongi, menuntut dan mengancam, melawan orang tua berarti berani terhadap Dewi Saraswati sehingga kesuksesan karier kedepanya akan tidak baik. Oleh karena itu, sayangi orang tua kita dan cintai mereka, sebab orang tua adalah tuhan sekala, dengan restu orang tua kesuksesan akan tercapai, layaknya panca pandawa terhadap ibu kunti.
Guru Pengajian, adalah guru yang menurunkan pengetahuan kepada para murid atau sisyanya. Pengertian guru dalam konteks ini adalah mereka yang telah memberikan pengetahuan spiritual maupun pendidikan formal dan informal. Oleh karena itu, guru pengajian merupakan Dewi Saraswati kedua dari catur guru yang mengajarkan karakter disiplin dan bertanggung jawab khususnya keterampilan bertahan hidup. Seorang murid seharusnya hormat dan berbhakti kepada para guru dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban para murid. Jauhi mencela guru, terlebih membohongi guru, sebab jika dilakukan maka pengetahuan yang diberikan seorang guru pada saat tertentu akan hilang, sama halnya Karna saat berguru pada Parasurama, saat peperangan besar pengetahuan tentang senjata tidak berguna, akibatnya karna mati dalam peperangan agung tersebut.
Guru Wisesa, adalah pemerintah menurunkan pengetahuan kepada para rakyat, agar tercipta stabilitas nasional yang baik, serta memberikan fasilitas kepada rakyat untuk mengembangkan diri dan bersinergi menciptakan bangsa bermartabat dan berkarakter. Pemerintah sebagai pemimpin rakyat, seharusnya berpedoman pada ajaran asta brata yang kemudian diimplemntasikan langsung pada masyarakat. Dengan peraturan dan Undang-Undang yang dibuat pemerintah sangat diharapkan dapat membantu masyarakat, terutamanya generasi muda untuk mengembangkan diri yang nantinya sebagai generasi penerus bangsa.
 Guru Swadyaya, adalah Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan pengetahuan sucinya kepada para umat Hindu, bentuk pengetahuan yang disampaikan adalah ajaran kitab suci, baik smerti maupun sruti dan interpretasi yang tertuang dalam teks sastra lokal yang telah diterjemahkan dalam tulisan maupun bahasa lokal masyarakat. Pengetahuan yang disampaikan tentu mengarah pada pembentukan karakter agar para umat mengatasi segala penderitaanya dengan jalan berbuat kebaikan atau subha karma, sesuai teks sarascamuccaya, 4, namun umat Hindu banyak tidak memiliki kitab suci di rumahnya. Oleh karena itu pada kesempatan ini, sangat diharapkan umat Hindu memiliki Kitab suci, minimal dua buah, sehingga dapat dijadikan pedoman dalam menghadapi kehidupan ini.
Demikian secara singkat ulasan dharma wacana yang disampaikan, kemudian dilanjutkan dengan dharma tula, acara diskusi semakin hangat dengan pertanyaan yang disampaikan mahasiswa maupun para dosen, sehingga tidak terasa diskusi berlangsung dua jam. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan oleh pengelola kampus dan penyerahan beberapa kitab suci oleh koleksi perpustakaan pribadi Hindu Research Center I Made Adi Surya Pradnya, semoga dapat bermanfaat untuk para civitas akademika di kampus ini, ujar Surya yang juga mahasiswa program doktor Ilmu Agama.
Antusias umat saat perayaan saraswati, membuat team Hindu Research Center (HRC) tambah semangat menyampaikan ide dan pemikiran, rasa bangga dan syukur tampak di wajah anggota team saat melanjutkan dharma wacana Saraswati di Desa Peguyangan Kaja, Denpasar yang dilaksanakan di Pura Desa, sebelum menuju ke Desa Peguyangan terlebih dahulu menyempatkan diri bertemu umat di Desa Adat Perang, Kurubaya mengikuti upacara piodalan. Ketika waktu menunjukan pukul 18.00 wita, perjalanan dilanjutkan menuju Pura Desa, Peguyangan Kaja, Denpasar, tepat pukul 19.30 wita tiba di jaba Pura Desa disambut oleh pengurus desa pakraman bidang Parhyangan, Chandra Narayama. Hadir pada acara tersebut adalah Bendesa Adat Peguyangan, para Jro Mangku, tokoh Puri Peguyangan AAN. Gede Widiada yang juga wakil ketua DPRD Denpasar, sekretaris Desa, karang taruna dan masyarakat.
Pada kesempatan ini I Made Adi Surya Pradnya menyampaikan dharma wacana berjudul, “perayaan saraswati cegah budaya permisif”, budaya permisif merupakan budaya yang serba memperbolehkan dan seolah-olah menyetujui perilaku yang menyimpang, salah satunya adalah kumpul kebo, pada zaman dulu, laki-laki dan perempuan yang belum terikat perkawinan sangat dilarang tidur bareng apalagi melakukan hubungan seks, namun saat ini para remaja yang kost di kota banyak mengembangkan tradisi kumpul kebo dengan berbagai macam alasan, salah satunya menghemat biaya kost dan lebih mengenal pasangan masing-masing, namun para masyrakat yang melihat kejadian itu seolah-olah menyetujui perilaku tersebut dan menganggap hal itu biasa, justru kalau tidak mengajak pasangan dipertanyakan kejantanannya, begitu pula minuman keras, kalau tidak ikut merasakan duduk bareng sambil menikmati minuman keras dianggap tidak gaul dan beberapa kasus lainya.
Oleh karena itu dengan perayaan saraswati, setidaknya para remaja mampu memahami swadharma sebagai pelajar ataupun mahasiswa, agar senantiasa menuntun pengetahuan dengan fokus, agar tidak seperti Kumbakarna yang pada waktu meminta anugrah kepada Dewa Brahma karena berhasil tapanya, dimana Kumbakarna mengharapkan kebahagiaan dan kesenangan abadi (sukasada), namun karena tidak fokus, akhirnya dia mengucapkan kata suptasada yang artinya tidur abadi, akibatnya sang kumbakarna menikmati tidurnya dan tidak mendapatkan apa yang diharapkan. Hal ini dapat dijadikan cerminan bagi generasi muda, agar tidak menyesal dikemudian hari, terlebih belum saatnya hamil kemudian tidak siapnya menikah muda akibat pergaulan bebas, maka memilih jalan aborsi, bahkan mendapat persetujuan orang tuanya atau orang tua memberikan saran untuk aborsi. Jika itu dilakukan roh leluhur yang seharusnya lahir dan numitis, akhirnya kandas akibatnya orang yang mengaborsikan kandungan hidupnya tidak akan tenang lahir dan batin.
Perayaan saraswati yang sarat dengan simbol-simbol wajib diketahui seluruh umat Hindu, dimana dewi saraswati disimbolkan dengan wujud yang cantik berarti pengetahuan sangat menarik dipelajari dan ditekuni, genitri merupakan pengetahuan yang abadi, sehingga orang yang memiliki pengetahuan dan mengenal istilah filsafat ilmu, maka tidak sewajarnya untuk sombong akan kecerdasan dan kepandaian, karena pengetahuan terus berkembang sepanjang zaman. Wina merupakan alat musik yang berarti pengetahuan identik dengan seni dan budaya yang berkembang kepada kreatifitas masyarakatnya, terlebih umat Hindu di Bali dapat mengembangkan segala kreatifitas salah satunya sarana upacara. Lontar menunjukan bahwa disanalah gudang pengetahuan, saat ini buku adalah gudang ilmu, agak modern lagi tablet memberikan pengetahuan dengan sekali sentuh. Teratai berarti pengetahuan ada di berbagai tempat di seluruh penjuru mata angin, sebab pengetahuan tidak milik orang kaya, pejabat, dosen, guru, tapi semua orang memiliki pengetahuan yang didapat dari pengalaman hidupnya. Angsa merupakan simbol kebijaksanaan, artinya orang yang memiliki pengetahuan hendaknya dapat berpikir bijaksana, bukan sebaliknya arogan dan ingin menang sendiri, sedangkan simbol merak adalah kewibawaan, yanga artinya orang yang memiliki pengetahuan, maka otomatis akan tampak berwibawa dan dicari banyak orang untuk meminta pengetahuan yang dimilikinya.
Demikian kesimpulan dharma wacana, masyarakat peguyangan kaja mengharapkan agar perayaan saraswati dapat dipahami dan memberikan apresiasi kepada generasi muda Hindu yang peduli terhadap Hindu, bahkan membagi ilmu tentang ajaran Hindu kepada masyarakat, khususnya  dharma wacana yang telah disampaikan. Acara diahkiri dengan pemberian kenang-kenangan dan penyerahan punia berupa kitab suci oleh koleksi perpustakaan pribadi Hindu Research Center I Made Adi Surya Pradnya kepada Bendesa adat Peguyangan.


           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar