Pages

Tampilkan postingan dengan label REKONVERSI AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REKONVERSI AGAMA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2013

FAKTOR PERKAWINAN PENYEBAB REKONVERSI AGAMA



FAKTOR PERKAWINAN PENYEBAB REKONVERSI AGAMA DI DALUNG
Oleh
I Made Adi Surya Pradnya
Perkawinan dalam Agama Hindu memiliki nama yang berbeda yaitu Pawiwahan. Menurut agama Hindu banyak sekali sumber hukum yang dipakai sebagai rujukan dalam usaha mencari penyelesaian permasalahan yang dihadapi, sesuai dengan konteks-nya. Adapun sumber hukum menurut Hindu ada tertulis maupun tidak tertulis, Hukum Hindu yang tertulis sering disebut dengan sastra dresta banyak sekali sastra-sastra Hindu mengatur tentang hal ini, antara lain: Manawa Darma sastra, Palasara sastra dan lain sebagainya, sedangkan hukum tidak tertulis disebut dengan Loka dresta dan atmanastuti (yang merupakan mufakat yg terbaik merupakan bhisama orang banyak dilingkungan sekitarnya).
Pawiwahan memiliki pengertian, dari sudut pandang etimologi atau asal katanya, yaitu kata pawiwahan berasal dari kata dasar “wiwaha”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata wiwaha berasal dari bahasa sansekerta yang berarti pesta pernikahan; perkawinan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:1130). Parisada Hindu Dharma Pusat, (1985: 34), Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-XV dijelaskan bahwa “perkawinan ialah ikatan sekala niskala (lahir bathin) antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal (satya alaki rabi)”. Jadi pawiwahan dapat didefinisikan ikatan lahir batin (sekala dan niskala) antara seorang pria dan wanita untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal yang diakui oleh hukum Negara, Agama dan Adat.
Pawiwahan atau perkawinan di Bali mengikuti aturan adat istiadat yang berlaku dimana dikenal istilah Purusa dan Pradana yaitu laki dan perempun. Pewarisan keturunan atau bahkan harta benda diberikan dan diserahkan kepada laki-laki, oleh karena itu laki-laki memegang peranan yang sangat besar dalam kehidupan berkeluarga. Hal ini telah disadari oleh seluruh masyarakat Hindu di Bali, sehingga perkawinan memiliki peranan penting dalam rekonversi agama ke Hindu, berikut penuturan Ni Nyoman  Bunter  istri dari I Wayan Biasa yang melalukan rekonversi karena faktor perkawinan. Menurut Ni Nyoman  Bunter dirinya dulu melakukan Konversi agama ke Kristen dikarenakan mengikuti suaminya, karena saking cintanya Ni Nyoman  Bunter rela untuk melepaskan baju Hindunya dan mau memakai baju Kristen. Ketika Ni Nyoman  Bunter menjalani hidup sebagai umak Kristen sangat merasa bahagia dan hidupnya selalu berkecukupan namun pada akhirnya kebahagian tersebut berakhir ketika bangkrutnya perusahaan suaminya karena banyak memberikan pinjaman kepada orang-orang yang sama sekali tidak dikenali identitasnya.
Ni Nyoman Bunter selalu memberikan pinjaman tanpa melihat bagaimana orang tersebut sampai akhirnya Ni Nyoman  Bunter meminjam uang untuk memberikan pinjaman kepada orang-orang yang membutuhkan. Pinjaman Ni Nyoman  Bunter pun semakin menumpuk bahkan tidak sanggup membayarnya. Semua harta benda, rumah, mobil dan lain sebagainya di jual untuk menutupin utang tersebut. Diimpit kebutuhan hidup yang banyak, akhirnya mereka sekeluarga memutuskan pulang kampung dan meminta bantuan dari keluarga dekatnya, keluarganya yang masih umat Hindu menyuruh Ni Nyoman  Bunter untuk bertanya kepada orang pintar (Balian), setelah bertanya dan mendapatkan jawaban yang jelas suami Ni Nyoman  Bunter memutuskan untuk melakukan Rekonversi agama ke Hindu (kembali memeluk agama leluhurnya Hindu), sehingga Ni Nyoman  Bunter juga ikut melakukan Rekonversi agama ke Hindu.
Hal tersebut juga dialami Ni Wayan Suartini, Suartini melakukan Konversi ke Kristen karena Faktor perkawianan dengan seorang umat Kristen. Menurut Suartini “saya melakukan Konversi agama ke Kristen karena saya menikah dengan warga umat Kristen mau tidak mau saya harus mengikuti agama yang dianut oleh suami saya”, menurutnya suami merupakan kepala keluarga dan semua keputusan di pengang dan ditentukan oleh suaminya. 6 bulan menjalani umat Kristen, Suartini melakukan Rekonversi agama ke Hindu karena permintaan suaminya berdasarkan masalah yang dihadapinya sampai mereka memutuskan untuk melakukan Rekonversi agama kembali ke Hindu.
Menurut I Made Tirta yang menyatakan melakukan Konversi ke Kristen karena faktor dari keluarga, keluarganya terdahulu melakukan Konversi ke Kristen karena perkawinan orang tuanya, ayahnya mengikuti agama ibunya yaitu Agama Kristen dan selanjutnya melakukan Rekonversi kembali ke Hindu di karenakan faktor pernikahan disamping juga karena keinginannya sendiri untuk melakukan pindah agama ke Hindu. Tirta “ketika saya berada di Lampung sudah muncul dibenak saya untuk melakukan Rekonversi atau pindah agama ke Hindu, entah dari mana datang keinginan tersebut, pindah agama saya terwujud ketika saya menikah, saya langsung melakukan pindah agama ke Hindu dan melakukan upacara Sudiwadani di Lampung”.
Perkawinana atau Pawiwahan merupakan faktor penyebab masyarakat untuk melakukan Konversi atau Rekonversi agama dari suatu agama ke agama yang lainnya. Hal tersebut di pertegas oleh I Wayan Dana Bendesa Pakraman Tuka yang menyatakan warganya melakukan Konversi atau Rekonversi agama adalah pernikahan atau perkawinan. Begitu juga dengan I Made Triasa Perbekel Desa Dalung, yang menyatakan bahwa warganya melakukan pindah agama karena faktor perkawinan.
Peneliti adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Agama
IHDN Denpasar





FAKTOR EKONOMI PENYEBAB REKONVERSI UMAT HINDU



FAKTOR EKONOMI PENYEBAB REKONVERSI UMAT HINDU DI DALUNG
Oleh
I Made Adi Surya Pradnya

            Pada edisi ini masalah rekonversi Umat Hindu yang merupakan hasil penelitian di Desa Dalung memaparkan penyebab Rekonversi Umat Hindu karena faktor ekonomi, tulisan ini merupakan lanjutan dari faktor penyebab umat Hindu yang melakukan rekonversi agama, setelah sebelumnya dimuat Media Hindu pada edisi bulan lalu. Dengan membaca artikel ini, diharapkan umat Hindu yang di iming-imingi sesuatu untuk konversi agama, mesti barpikir bahwa apa yang disampaikan tidaklah seperti apa yang dibayangkan, terlebih motif konversi agama karena ekonomi, sebab setelah konversi justru kesejahteraan, perasaan dan kebahagiaan menjadi tidak stabil bahkan menjadi tambah miskin, karena dilakukan dengan tekanan dan paksaan atas keyakinan. Berbeda halnya jika kita tetap yakin sebagai seorang Hindu, ekonomi dan kesejahteraan lebih stabil jika kita eling dan bhakti dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta leluhur, meskipun saat ini kita menderita tidak lain adalah ujian tuk kesuksesan dari Hyang Widhi.
Menurut Aristoteles (384-322 B.C.) Ekonomi dibedakan antara ekonomi yang menyelidiki peraturan rumah tangga yang merupakan arti asli bagi istilah ekonomi, dan chrematisti yang mempelajari peraturan-peraturan tukar-menukar dan karenanya pemikiran ini dapat disebut sebagai perintis jalan bagi berkembangnya teori ilmu ekonomi. Dijelaskan selanjutnya bahwa kepala rumah tangga harus mengusahakan pemenuhan kebutuhan secara baik. Jikalau suatu “Oikos” mempunyai kelebihan sesuatu, maka dengan sendirinya dan pada tempatnya ditukarkan dengan barang-barang yang berlebihan di rumah tangga yang lain.
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa suatu barang dapat digunakan dengan dua jalan yaitu kemungkinan untuk dipakai dan kemungkinan untuk ditukarkan dengan barang lain. Alhasil dari situ dapat diperoleh pengertian di dalam ilmu ekonomi tentang nilai pemakaian dan nilai pertukaran. Kegiatan pertukaran barang dikerjakan oleh para pedagang sebagai mata pencaharian mereka, hal mana sejalan dengan tujuan chrematisti, meskipun menurut para filsuf Yunani pada waktu itu kurang mendapatkan penghargaan kepada kegiatan (profesi) pedagang.
Perkembangan ekonomi Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya mengalami penurunan pada tahun 1965. Pada tahun 1965 di Bali khususnya di Desa Dalung mengalami musim paceklik yaitu pada musim ini perekonomian masyarakat Dalung sangat merosot kebawah sampai masyarakat kekurangan bahan makanan. Kedatangan masyarakat yang lain agama yaitu Agama Kristen yang diwakilkan oleh Pastur Sadeg memberikan berkah yang sangat luar biasa kepada masyarakat Desa Dalung karena umat Kristen memberikan bahan makanan berupa Gandum, Susu sandang dan papan, juga memperbaiki perekonomian dengan cara memberikan beasiswa kepada masyarakat yang sekolah di sekolah Kristen.
Hal ini juga dipertegas oleh I Wayan Sepia (Wawancara, 30 Agustus 2010) yang menjelaskan bahwa pada tahun 1965 masyarakat dalung mengalami kemerosotan ekonomi dan mengalami musim Paceklik, saat itu kedatangan umat Kristen sangat memperbaiki perekonomian dengan cara memberikan pendidikan gratis, memberikan beasiswa sampai perguruan tinggi dan juga yang lainnya. Masyarakat berpikiran termasuk I Wayan Sepia berpikiran jika masuk atau konversi ke Agama Kristen, maka perekonomian akan berubah membaik hal ini dilihat karena umat Agama Kristen bisa nyumbang, dan memberi modal pendidikan. Tahun 1965 masyarakat di Desa Dalung melakukan Konversi agama ke Agama Kristen termasuk I Wayan Sepia dengan harapan ketika melakukan Konversi tersebut perekonomian masyarakat bisa membaik, menurut I Wayan Sepia “tiang pindah agama ke Kristen santukan ekonomi tiang daweg punike jelek pesan, kadirase anggon nyambung urip keweh pesan. Tiang nyingak ring Agama Kristen preside nyumbang, ngemang tiang Gandum, Susu, ulian nike tiang tertarik masuk Krinten. Lenan kading nike pendidikan di tanggung Kristen”, (“saya pindah ke Agama Kristen karena maslah ekonomi waktu itu memang sangat menderita sekali, sepertinya untuk menyambung hidup sangat sulit, saya melihat di dalam Agama Kristen banyak ada sumbanganyang memberikan Gandung, susu, karena itulah saya tertarik masuk Kristen, disamping itu pendidikan saya di tanggung”). Ketika hampir semua masyarakat melakukan Konversi agama ke Kristen perekonomian masyarakat bisa berubah dari terpuruk menjadi meningkat sedikit demi sedikit karena upaya dari pihak umat Kristen dengan memberikan fasilitas-fasilitas pendidikan dan lahan pekerjaan.
Perekonomian I Wayan Sepia semakin memburuk pada tahun 1990-an, hal ini disebabkan karena I Wayan Sepia sakit-sakitan. Sebagai kepercayaan orang Bali yaitu menanyakan kepada orang pintar atau dukun, dukun tersebut mengatakan perekonomiannya hacur karena leluhur I Wayan Sepia yang dulunya Hindu tersebut tidak menerima I Wayan Sepia untuk tetap Agama Kristen. Dengan pertimbangan yang matang I Wayan Sepia memutuskan untuk Rekonversi agama kembali ke Hindu demi memperbaiki Ekonomi dan kesehatannya. Hal tersebut terbukti dengan I Wayan Sepia kembali sehat dan mampu membuat merajan dan melakukan upacara besar-besaran di Merajannya.
Konversi dan Rekonversi agama karena Faktor Ekonomi sangat banyak dilakukan oleh masyarakat Desa Dalung salah satu masyarakat yang mengalami hal tersebut selain I Wayan Sepia yaitu I Wayan Biasa. Biasa mengatakan awal beragama Hindu, karena kebiasaan mendengar dan sering main-main ke Gereja pada saat Biasa tinggal di Denpasar. Biasa tertarik untuk ikut melakukan hal serupa karena dalam benaknya menilai kalau Agama Kristen itu sangat simple dan mudah dilaksanakan tidak seperti halnya dengan Agama Hindu yang sedikit tidaknya melakukan sesajen, melakukan upacara agama yang paling sedikit menggunakan dana jutaan. Mengingat dan mempertimbangakan perbandingan tersebut Biasa yang sudah memahami Agama Kristen memutuskan melakukan Konversi agama ke Kristen pada tahun 1965, Ketika Biasa menjalaini kehidupan dengan sebagai umat Kristen, Biasa menemukan kesuksesan yang sangat luar biasa karena keloyalan dan kerendahan hatinya untuk melayani umat Kristen lainnya, sehingga Biasa di angkat menjadi ketua suka duka di kawasan Denpasar Selatan.
Menjalani hidup sebagai Ketua Suka Duka Biasa mendapatkan pengalaman yang sangat banyak diantaranya menemukan berbagai masalah dalam menghadapi warga terutamanya kremasi mayat, penguburan, bahkan pertengkaran lahan pemakaman dengan warganya sendiri. Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Ketua PHDI Badung I Wayan Mulia yang menyatakan pada tahun 1965 Desa Dalung pada khususnya mengalami musim paceklik mengakibatkan menurunnya keadaan ekonomi masyarakat, sehingga mengakibatkan kemerosotan sandang, pangan dan papan. Kekurangan bahan tersebut dibantu oleh Pastur Sadeg dengan memberikan bahan makanan, disamping juga dengan misi untuk menyebarkan Agama Kristen. Hal serupa juga dinyatakan oleh I Wayan Dana selaku Bendesa Pakraman Tuka yang sudah menjabat hampir selama hidupnya berumah tangga.
Penulis, mahasiswa program Doktor Ilmu Agama IHDN Denpasar

PENYEBAB REKONVERSI AGAMA



KETIDAKPUASAN, PENYEBAB REKONVERSI AGAMA
Oleh
I Made Adi Surya Pradnya

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa Dalung, Bali dan lanjutan dari tulisan yang telah dimuat Media Hindu pada edisi sebelumnya. Artikel ini tetap membahas faktor Rekonversi Agama, yang dalam penelitian termuat dalam Bab V, Yaitu Faktor Penyebab Rekonversi Agama, berikut disampaikan salah satu penyebab rekonversi Agama, selain faktor leluhur yang telah dimuat MH pada edisi sebelumnya.
Pemerintah Rebublik Indonesia mengatur tentang kebebasan memeluk agama yang dimuat dalam Pasal 29 ayat 2 yang berbunyi, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Berdasarkan UU tersebut memunculkan pemikiran tentang kebebasan seseorang memeluk agama tanpa dipaksa atau diiming-imingi, sehingga umat bebas Konversi atau Rekonversi agama dari agama satu ke agama lainnya. Berikut salah satu faktor penyebab seseorang melakukan Rekonversi Agama di Dalung yang disebabkan Katidakpuasaan. Ketidakpuasan umat dalam beragama, meliputi ketidakpuasan spiritual atau kecewa secara sosial.
Pada penelitian ini, ketidakpuasan dalam menganut agama dirasakan oleh I WS yang tinggal di daerah Dalung, dia mengatakan dahulu masyarakat desanya mengalami musim Paceklik yaitu tahun 1965, pada musim ini semua bahan pangan sulit didapat. Bersamaan hal tersebut kedatangan Pastur Sadeg menganut Agama Kristen membawakan bahan makanan seperti Gandum, Susu, dan bahan makanan lainnya diberikan kepada masyarakat Banjar Pengilian, Dalung. Kebaikan tersebut pastinya memiliki tujuan tertentu, terbukti I WS bersama Pastur di ajak ke Gereja mengenal suasana tempat suci umat Kristiani. Kemudian masyarakat diberikan pengenalan tentang ajaran Kristen, sehingga masyarakat tertarik melakukan konversi berdasarkan pertimbangan bahwa Agama Kristen berbeda dengan Agama Hindu, disamping hal tersebut Agama Kristen lebih mudah dijalani tanpa harus setiap pagi membuat sesajen, lima hari sekali melaksanakan Bhuta Yajna, belum lagi punia dan piodalan masing-masing pura tiap enam bulan, selain faktor eksternal juga faktor internal dalam diri manusia yaitu upacara yang mesti dilaksanakan sejak dalam kandungan sampai manusia kembali ke alam sunia memerlukan banyak ritual, sehingga membebani biaya, waktu dan tenaga.
Seiring perjalanan waktu masyarakat semakin dekat dengan pastur, sehingga diberikan wejangan-wejangan kepada masyarakat didalam wejangannya juga disisipkan kata, ”Kalau masuk Agama Kristen akan lebih mudah karena sedikit melakukan ritual atau yajna”. I WS mengatakan,”tiang pindah agama ke Kristen mawinan naweg punika tiang nyingak ring Agama Kristen aluhan, yadnya nyane bedik ten karing merepotkan nike mawinan tiang pindah agama uli Hindu ke Kristen Katolik” (“Saya pindah ke Agama Kristen, karena pada waktu itu saya melihat beragama Kristen lebih mudah pelaksanaan ibadahnya, karena tanpa ritual yang banyak dan tidak merepotkan, itulah sebabnya saya pindah keyakinan ke Kristen Katolik”). Bukan saja I WS, namun semua warga masyarakat mempunyai pemikiran seperti itu, sehingga pada tahun 1965 ada konversi dari Agama Hindu ke Kristen di Desa Dalung.
Pada tahun 1997, IWS dikecewakan oleh pemuka Agama Kristen yang awalnya mengecewakan anaknya karena pemuka agama yang sering disebut Pastur ingkar janji terhadap janjinya terdahulu yang disepakati dengan anaknya. Melihat kejadian seperti itu akhirnya I WS memutuskan kembali ke agama awalnya atau Rekonversi ke Agama Hindu. “tiang mewali malih megama Hindu santukan tiang ten presida nyingakin pianak tiang di kecewakan pastur, pastur punika ingkar janji ngorahan lakar preside ngantenang pianak tiang ring Gereja mewali, nanging Pastur punike ten mresidayang, nike mawinan tiang mewali megama Hindu”. (“Saya kembali menjadi Hindu (Rekonversi) karena saya tidak tega anak saya diperlakukan seperti itu yang mana anak saya dikecewakan pastur. Karena Pastur tersebut ingkar janji akan mengupacarai perkawinan anak saya di Gereja, tapi sampai sekarang tak ditepati, jadi saya memutuskan untuk kembali lagi ke Hindu”), seperti yang di ucapkan I WS.
Menurut I WYS yang merupakan anak kandung I WS mengungkapkan hal yang sama I WYS menyatakan dirinya merasa sangat tidak puas dan sangat kecewa dengan Agama Kristen yang merupakan agama yang dianutnya. Ketidakpuasan I WYS berawal dari tahun 1993, pada tahun ini I WYS di paksa menikahi seorang wanita. I WYS menyetujui hal tersebut dan memutuskan untuk menikahinya, ketika prosesi pernikahan berlangsung I WYS dengan Pastur atau pemuka agama mengadakan perjanjian terlebih dahulu.
I WYS mengadakan perjanjian “jika nanti istri saya selingkuh, atau saya mendapati istri saya selingkuh saya akan menceraikannya. Bila setelah perceraian tersebut terjadi dan saya ingin menikah lagi saya akan mendapatkan hak untuk mendapatkan upacara pernikahan suci dalam gereja”. Mendengar kata-kata dari I WYS, Pastur menyetujui perjanjian tersebut dan sanggup untuk melaksanakan perjanjiannya. Ketika beberapa tahun menjalani kehidupan berumah tangga, I WYS mempergoki istrinya selingkuh. I WYS ingat dengan perjanjiannya terdahulu bahwa I WYS akan menceraikan istrinya jika istrinya selingkuh. Sehingga pada akhirnya I WYS menceraikan istri pertamanya.
Pada Tahun 1997 I WYS bertemu dengan seorang wanita Hindu yang menurutnya bisa menemani serta mendampingi hidupnya dan pada tahun itu juga I WYS memutuskan untuk menikahinya dengan melakukan pernikahan secara Hindu terlebih dahulu di rumah mempelai wanita, kemudian melaksanakan pernikahan secara Kristen di Gereja. Ketika I WYS akan konsultasi dengan pemuka Agama Kristen dan menyampaikan isi hatinya bahwa I WYS akan menikah kembali dan ingin mendapatkan upacara suci. Pastur tidak menyetujui hal tersebut dan tidak mengijinkan I WYS mengadakan upacara suci di Gereja tanpa alasan yang jelas, sehingga I WYS merasa tidak puas karena dibohongi dan dikecewakan, “saya tidak menyangka seorang pemuka agama, seorang hamba Tuhan bisa ingkar terhadap perjanjian yang terdahulu yang pernah diucapkannya”. Ketidakpuasan inilah yang mengawali I WYS kehilangan keyakinan untuk memeluk Kristen dan akhirnya memutuskan melakukan Rekonversi atau pindah kembali ke Agama Hindu.
I WYS mengatakan, “setelah saya kembali lagi beragama Hindu disini saya menemukan kehidupan yang baru, yang lebih cerah dan disini saya menemukan kebahagian sejati”. Meskipun pada pasca Rekonversi Agama ke Hindu I WYS sering didatangi pemuka Agama Kristen memberitahu tidak melakukan pindah agama dan tetap menjadi umat Kristen, tapi I WYS tetap pada pendiriannya “meskipun setiap minggu saya dicari oleh Pastur, dibujuk untuk kembali lagi menjadi umat kristen saya tetap pada pendirian awal saya, yaitu kembali ke Hindu (Rekonversi), karena sejak saya beragama Hindu saya telah menemukan ketenangan dan kebahagiaan” ungkapan I WYS.
I WS dan I WYS sama-sama dikecewakan karena ketidak Satya Wacana seorang hamba Tuhan, namun berbeda dengan pemaparan dari NNB seorang ibu yang melakukan konversi Agama dari Hindu ke Kristen pada tahun 1965. NNB melakukan Konversi agama ke Kristen karena Faktor perkawinan yang mengikuti agama suaminya, NNB memang mengalami kebahagian saat beragama Kristen, sampai akhirnya NNB menggagas pemikirannya untuk mendirikan sebuah TK (Taman Kanak-Kanak) yang berada di kawasan Denpasar, namun roda kehidupan terus berjalan NNB merupakan pendiri TK dan merintis TK (kini menjadi sekolah, SD, SMP dan SMA di sebuah kawasan Denpasar) merintis sebuah  sekolah sangat sulit, terlebih sejak awal berdiri tanpa siswa dan kini sukses bahkan memiliki yayasan, namun jerih payah NNB sama sekali tidak dihargai, bahkan dia dipecat dari yayasan tersebut, tanpa alasan jelas dari pimpinanya. Hal inilah yang membuat NNB terpukul dan dia dikecewakan, NNB sangat tidak puas dan menganggap sekolah tidak adil dengan dia, apalagi  agamanya sendiri karena sekolah tersebut berbasis agama. Berbekal kekecewaan dan ketidak puasan tersebut NNB beserta keluarganya memutuskan untuk melakukan Rekonversi agama ke Hindu kembali setelah beberapa lama menjalani hidup beragama Kristen. Setelah NNB Rekonversi Agama, dia akhirnya menemukan kebahagiaan dalam hidupnya yang tidak didapatkan pada waktu sebelumnya, “saya sangat bahagia dan merasa puas bisa kembali kedalam agama leluhur saya, sehingga saya mendapatkan ketenangan dan kebahagian seperti saat  ini dan anak-anak saya telah sukses dan kini bekerja di luar negeri, saya juga mengucapkan terima kasih buat saudara-saudara Hindu yang telah menerima saya lagi”,  ujar NNB.
Faktor ketidakpuasaan seseorang dalam beragama, sangat menentukan seseorang untuk kembali ke agama leluhurnya, karena setelah merasakan ajaran agama yang dianggapnya baik, namun mengecewakan saat dijalani, hal inilah yang menyebabkan rekonversi agama. Pernyataan tersebut sesuai dengan teori pertukaran sosial yang disampaikan Homans-Blau, bahwa ada tiga hal yang ditukarkan dalam kegiatan sosial yaitu ganjaran (reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan (profit), apabila tidak ada keseimbangan antara ketiga hal tersebut dalam berinteraksi, baik individu dengan individu atau invidu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok, maka akan terjadi ketidakpuasaan yang menyebabkan chaos, pertengkaraan, perceraian dan kekecewaan. Berdasarkan hal tersebut, apabila umat Hindu yang tidak puas ketika konversi dan kembali ke agama leluhurnya (rekonversi), maka dia akan mengetahui ajaran Hindu yang adiluhung karena memberikan kebahagiaan sejati, bagi dirinya. Hal ini adalah cerminan bagi umat Hindu, bahwa agama Hindu adalah agama yang fleksibel dan universal dan bersifat anadi ananta (tidak berawal dan berakhir), sehingga akan abadi selamanya. Oleh karena itu, perkuatkan sradha dan bhakti untuk mencapai moksatam jagat hita ya ca iti dharma.
Pada edisi berikutnya akan dibahas tentang penyebab rekonversi yang lain, sesuai hasil penelitian yang telah dilakukan.
Peneliti adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Agama
IHDN Denpasar

REKONVERSI AGAMA DI DALUNG



REKONVERSI AGAMA, KEMBALINYA UMAT HINDU DI DALUNG
Oleh
I Made Adi Surya Pradnya

Agama merupakan wadah bagi manusia untuk berinteraksi dengan kekuatan alam yang dipercaya dapat membantu manusia dari penderitaan. Perkembangan agama memang kontroversi, bahkan agama sering menimbulkan konflik baik dalam penyebaranya maupun ajaranya. Hal ini melahirkan pernyataan-pernyataan bahwa agama adalah racun dunia, tuhan telah mati dan sebagainya. Setiap agama tentunya memilki ajaran yang baik, mengajarkan kebenaran, namun penerapan ajaranya terkadang tidak sesuai dimana, para tokoh agama mempersempit ajaran kebenaran agamanya. Akibatnya para pemeluk menjadi fanatik dan menolak kebenaran, selain kebenaran ajaran agamanya, bahkan kini ajaran agama telah banyak disalahtafsirkan, sehingga ajaran yang baik menjadi ajaran pembunuh, penindas dan lain sebagainya.
Indonesia merupakan negara yang menghargai masyarakatnya untuk bebas memeluk salah satu agama yang diakui di Indonesia. Kebebasan beragama bahkan telah diatur dalam undang-undang, sehingga masyarakat terjamin beribadat sesuai dengan kepercayaanya masing-masing, selain itu di Indonesia juga banyak memberikan kontribusi bagi agama. Hal ini dibuktikan adanya Kementerian agama, lembaga agama yang berstruktur dan lembaga-lembaga agama yang dibentuk menjaga kerukunan umat beragama. Indonesia mengatur agama dan melindungi masyarakatnya, untuk memeluk salah satu yang menjadi kepercayaanya secara pribadi, namun perkembangan selanjutnya, antar agama terdapat persaingan yang menyebabkan konflik, para tokoh agama yang telah dianggap utusan Tuhan memanfaatkan umatnya untuk merambah kekuasaan dan menyebarkan ajaran agamanya dengan berbagai cara, sehingga muncul terorisme yang dengan terangnya menyebut dirinya sebagai utusan Tuhan yang menyadarkan manusia, meskipun dengan pembunuhan massal.
Hal inilah yang memunculkan pemikiran para tokoh modernitas menganggap agama sebagai suatu “candu” yang paling berpengaruh menghambat kemajuan, tampaknya sekarang muncul suatu kesadaran postmodern yang berpendirian bahwa spiritulaitas religius merupakan satu-satunya harapan demi suatu perubahan sosial yang positif maupun demi melestarikan nilai-nilai yang benar-benar penting. (Griffin, 2005: 8) Masyarakat kini telah dewasa dan cerdas beragama, dibandingkan beragama dengan paksaan dan aturan-aturan yang sangat mengikat, bahkan di media arogansi umat beragama menyebabkan masyarakat tidak lagi beragama namun tetap berketuhanan atau spiritualias, yang prulal, sebagai wujud agama di zaman postmodern.
Hindu mengajarakan tujuan yang dicapai dalam kehidupan, yaitu Moksatam jagathitha ya ca iti dharma, kebebasan untuk penyatuan dengan Tuhan. Agama memberikan kepuasan atas jawaban segala cobaan dan penderitaan yang dihadapi manusia. Oleh karena itu seluruh umat Hindu mesti mencari hakekat tujuan Hindu. Dengan menemukan hakekat beragama, seseorang pasti kuat iman dan bhaktinya terhadap Hindu, sehingga dia tak tergoyahkan meskipun banyak bujukan dn rayunan dari utusan-utusan Tuhan.. Missionaris Kristen yang membawa kebenaran Agama Kristen ke Bali, khusus di Desa Dalung dan sekitarnya telah banyak mengkonversi masyarakat Hindu, sehingga masyarakat Desa Dalung dan sekitarnya, telah banyak beralih agama ke Kristen. Tentunya proses konversi di Dalung sangatlah panjang, namun dalam perkembanganya masyarakat yang mengalihkan keyakinan dari agama leluhurnya, merasakan tekanan batin dan rohani, sehingga masyarakat kini mulai sadar dan berkeinginan terbebas dari belenggu agama yang tidak pantas mereka yakini, sehingga umat Hindu yang beralih agama menjadi Kristen, kini kembali menjadi Hindu, untuk mendapatkan kebahagiaan yang selama ini menjadi hambatan bagi rohani umat Hindu yang di konversi. Kembalinya seseorang ke agama leluhurnya, setelah sebelumnya melakukan konversi ke agama lain, peneliti sebut dengan istilah “Rekonversi”, yang berasal dari kata “Re-“ yang artinya kembali dan “konversi Agama” berarti pindah agama. Jadi peneliti mendefinisikan “Rekonversi Agama Hindu” yaitu kembalinya seseorang ke agama leluhurnya (Hindu), setelah sebelumnya di konversi ke agama lain.
Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian berjudul, “Rekonversi Umat Hindu Di Bali (Study Kasus di Desa Dalung)” yang kami teliti di Desa Dalung, Badung . Berikut adalah curahan hati dari seorang yang telah rekonversi, yaitu I Wayan Biasa. Beliau melakukan Rekonversi agama dikarenakan faktor leluhur yang tidak merestui atau mengijinkan Biasa menjadi umat Kristen. Pada tahun 1965 Wayan Biasa melakukan Konversi agama ke Kristen, kesuksesan Biasa di dapatkan setelah masuk Kristen, namun hal tersebut berakhir dengan kebangkrutan usahanya.
Pada akhirnya Biasa menjual Rumah, Mobil dan semua harta bendanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menutupi hutangnya. Kebangkrutan itu mengarahkan Biasa beserta keluarganya pulang kampung di Desa Tuka, Dalung. Biasa tidak memiliki harta benda sedikit pun kecuali keluarga dari istrinya. Biasa konsultasi dengan iparnya yang menjadi Bendesa Pakraman Tuka. Kemudian Biasa diarahkan mepeluasang yang dalam bahasa Indonesia memiliki pengertian “bertanya kepada Balian”. Disamping itu juga Mepeluasang merupakan tradisi masyarakat Bali dengan bertanya pada orang yang mampu memediasi antara alam sekala dengan niskala.
Saran tersebut dilaksanakan oleh Biasa, dalam prosesi mepeluasang pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada Balian ternyata disimpulkan, bahwa leluhurnya tidak merestui Biasa konversi ke Kristen, leluhurnya berkata melalui mediasi Sang Balian, “cening bapa ane ngambil kesugihan ceninge, bapa ni leluhur cening ngujang kalin bapa? Yen cening mekeneh kesugihan cening mewali? Cening mewali bin ke asal ceninge, yen be keto mare bapa kal ngewaliang apa ne pantes gelahang cening. Men cening mawali to benin sanggahe men sing ngelah pis nyanan bapa nulungin uli kledituanne” (“Anak-Ku semua harta kekayaan yang kamu dapatkan, semuanya tidak berarti, Aku ini adalah leluhurmu, kenapa kau tinggalkan Aku, kalau kau ingin hidup bahagia dan harta kekayaanmu kembali, maka kamu harus kembali ke leluhurmu, bangunlah kembali tempat suci dirumahmu (Merajan) jika kau menyanggupinya, maka akan ada rejeki yang datang lagi kepadamu dan keluargamu”).
Mendengar hal tersebut I Wayan Biasa langsung rekonversi agama dengan memperbaiki merajan yang diamanatkan oleh leluhurnya, sungguh mujisat setelah merajan diperbaiki Biasa mendapatkan rejeki yang berlimpah-limpah. Karier Biasa kembali melonjak. Rejeki terus mengalir setelah anaknya dinyatakan lulus berangkat ke kapal pesiar, sehingga dengan sekejap dapat membeli tanah dan membangun rumah lengkap dengan prabotanya. Selain itu Biasa diberikan kepercayaan oleh masyarakat sebagai Kelihan Banjar di Desanya. Ketenangan dan kebahagian Biasa dapatkan setelah kembali menjadi Hindu, menurut Biasa, “saya merasa sangat senang, sangat tenang dan sangat bahagia dimana semua warga Hindu menyambut baik ketika saya kembali ke Hindu, sampai saya diberikan kepercayaan sebagai kelian banjar di desa ini”.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, salah satu factor yang menyebabkan seseorang melakukan rekonversi Hindu adalah leluhur, karena masyarakat Hindu di Bali, sangat mempercayai kekuatan leluhur yang menjaga kehidupan masyarakat Bali dan merupakan bagian dari panca yajna, yaitu pitra yajna, sehingga apabila orang Hindu di Bali Konversi agama, kehidupan mereka akan tersiksa lahir dan batin, terlebih telah tersurat dalam bhisama-bhisama leluhur. Tentunya rekonversi agama disebabkan dengan banyak factor lainya.oleh karena itu factor, proses dan dampak rekonversi Hindu akan diulas pada edisi berikutnya berdasarkan hasil penelitian Rekonversi Agama Hindu dengan objek penelitian dilaksanakan di Desa Dalung, Badung.
Peneliti adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Agama
IHDN Denpasar


BIODATA PENELITI:
Nama               : I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag.,M.Fil.H
TTL                 : Denpasar, 18 Mei 1986
Pekerjaan         : Dosen IHDN Denpasar
No. HP            : 081805469846